الأربعاء، أبريل ٠١، ٢٠٠٩
الفقة الدرس الأول
الطهارة
· الطهارة : النظافة و التخلص من الأقذار. شرعا : إزالة حكم حدث أو خبث بالماء أو البديل عنه.
· الحدث : أصغر يتطلب الوضوء – أكبر يتطلب الغسل. لغة : الشيء الطارئ
· الخبث : النجاسة بأنواعها المختلفة.
· الوضوء : من الوضاءة وهي الحسن و النظافة. شرعا : القيام بغسل أعضاء مخصوصة، بطرقة مخصوصة، و نية عند بعد الفقهاء.
· يا أي أمن اذا قمتم الى الصلاة... مائدة 6. لا يقبل الله صلاةً بغير طهور، ولا صدقة من غلول.
التسميات: الفقة الدرس الأول
الأربعاء، يونيو ٠٧، ٢٠٠٦
Donald Rumsfeld Drakula, Obey him
Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari ini, Selasa, 6 Juni 2006, dijadwalkan memulai lawatan resminya ke Jakarta. Tentu, itu merupakan perkembangan baru. Sebab, selama menjabat menteri pertahanan, baru kali ini Rumsfeld ke Indonesia. Banyak harapan diletakkan pada kunjungan tokoh Neo-Conservative itu. Salah satunya adalah diakhirinya embargo peralatan militer AS atas Indonesia yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun.Rumsfeld memang bukan orang sembarangan. Selain jabatannya sebagai menteri pertahanan, dia bersama Paul Wolfowitz, Richard Perle, Irving Kristol, Karl Rove, serta Condoleza Rice adalah tokoh-tokoh Neo-Conservative yang mengendalikan kebijakan pertahanan dan luar negeri Amerika Serikat. Mereka itulah orang-orang di balik layar yang menjerumuskan George Bush untuk menginvasi Afghanistan, Iraq, dan bersikap keras terhadap Iran. Selain itu, tokoh-tokoh Neo-Con tersebut sangat bertanggung jawab dalam kebijakan pro-Zionis Israel sesuai dengan agenda politik kelompok fundamentalis Kristen sayap kanan.
Sebelum menjabat menteri pertahanan di masa Presiden George W. Bush, dia pernah mengabdi kepada Ronald Reagan, juga sebagai menteri pertahanan. Dalam jabatannya di masa Reagan itulah, dia mempunyai peranan penting yang tidak bisa dilupakan dan menjadi ironi di masa Bush Jr. Dalam hal ini, Rumsfeld saat itu sempat mengunjungi Saddam Hussein dan berfoto mesra dengan diktator Iraq tersebut.Memang, atas arahan Rumsfeld pula, pemerintah Reagan yang waktu itu resminya bersikap netral dalam perang Iraq melawan Iran, nyata-nyata mendukung Saddam Hussein. Nizar Hamdoon, Dubes Iraq di Washington DC saat itu, mendapat akses luar bisa dari Amerika lewat Rumsfeld. Misalnya, mudah mendapatkan kredit baik untuk membeli pangan maupun persenjataan Amerika. Yang lebih penting lagi, AS juga memberikan data intelijen dari foto-foto satelit dan sumber-sumber lainnya mengenai posisi pasukan Iran dan data militer lainnya. Dengan segala daya, Amerika habis-habisan membantu Saddam agar Iran tidak bisa menang.Juga DiplomatikBantuan Washington kepada Saddam Hussein bukan hanya masalah militer dan logistik lainnya, tetapi juga di bidang diplomatik. Pada 1983, misalnya, Iran melaporkan bahwa pasukan Iraq mulai menggunakan senjata kimia. Sesuai dengan protokol Jenewa, laporan itu harus ditindaklanjuti masyarakat internasional, khususnya DK PBB. Tetapi, dengan bantuan AS, komplain Iran berhasil dibungkam dan tidak sampai berlanjut ke DK PBB.Menurut laporan intelijen yang sekarang sudah dideklasifikasi -dinyatakan tidak rahasia lagi- pada 21 November 1983, Lawrence Eagleburger yang waktu itu menjabat deputi Menlu mendapat informasi akurat dari Jonathan T. Howe, asisten Menlu urusan Timur Tengah dan Asia Selatan mengenai penggunaan senjata kimia oleh Iraq. Saat itu, Howe merekomendasikan kepada Deplu AS agar segera memanggil Dubes Iraq di Washington DC untuk membicarakan persoalan tersebut.Tetapi, karena Rumsfeld dan sekutunya yang berada di sekitar Reagan waktu itu sedang "mesra-mesranya" dengan Saddam Hussein, saran dan rekomendasi pejabat senior Deplu AS tersebut tidak dihiraukan. Puluhan ribu warga sipil dan pasukan Iran tewas karena kejamnya senjata kimia Saddam Hussein. Tetapi, karena saat itu Saddam sangat bermanfaat bagi Amerika, maka kekejamannya tersebut tidak mendapat sanksi apa pun. Bahkan, dia malah dipuja-puja sebagai tokoh yang melawan "fundamentalisme Islam" yang dipimpin Ayatullah Khomeini.Selama perang Iran v Iraq itu, Rumsfeld bolak-balik bertemu Saddam Hussein atau pun utusannya. Pada Maret 1984, meski fakta Iraq terus menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah masal (weapons of mass destruction), Rumsfeld dan para petinggi Amerika tetap merestuinya. Sebulan kemudian, pada April 1984, kemesraan dengan Saddam ditingkatkan dengan penjualan helikopter Bell Textron yang resminya not for military purpose (bukan untuk kepentingan militer). Mengapa Rumsfeld makin mesra dengan Saddam? Jawabannya jelas, karena bosnya, Presiden Ronald Reagan, sudah mengeluarkan presidential directive (NSDD 139), yakni meskipun secara halus Iraq harus dikecam atas penggunaan senjata kimia, Amerika harus mencegah dengan segala daya, jangan sampai rezim Saddam Hussein runtuh karena kekalahannya memerangi Iran. Rumsfeld jelas tahu bahwa rezim Saddam sangat tidak bermoral dan biadab. Sebab, Saddam bukan hanya bersikap bengis terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, yaitu suku Kurdi, dan terhadap pasukan Iran. MengherankanKarena itu, sungguh sangat mengherankan ketika mendorong Presiden George W. Bush memerangi Saddam Hussein, argumen yang dibangun Rumsfeld dan kawan-kawannya dari kelompok Neo-Conservative ialah "menyingkirkan tiran biadab" dan menghentikan senjata pemusnah masal. Bagi warga Amerika yang kritis dan masyarakat internasional, pernyataan Bush yang didukung Rumdfeld juga sangat menggelikan.
Sayang, mayoritas warga Amerika terbuai oleh janji pepesan kosong kaum Neo-Con, yang menurut analisis Prof Jihn Mershemer dari University of Chicago, memerangi Iraq atas pesanan Israel via AIPAC (American Israeli Public Affairs Committee), sebuah kelompok lob yang sangat berkuasa di Washington DC.Lebih dari 2.000 tentara Amerika tewas di Iraq, ribuan lainnya cacat atau luka-luka hanya karena dorongan keserakahan kaum Neo-Conservative itu. Nyatanya, tuduhan Saddam memiliki senjata nuklir dan WMD (weapons of mass destruction) sama sekali tidak terbukti. Tetapi, bagi Rumsfeld, semuanya halal saja. Nyawa dan kerusakan masyarakat Iraq bukan menjadi pertimbangannya. Akibat sikap gegabahnya itu, dunia kini semakin tidak aman dan bahkan di Iraq tiap hari terjadi pembunuhan, baik terhadap masyarakat biasa maupun tentara pendudukan Amerika. Pasukan Amerika pun ternyata bermoral rendah dan berkali-kali terbukti melakukan kekejaman serta pembunuhan terhadap rakyat sipil, tetapi tidak ada tindakan berarti. Skandal penjara Abu Ghraib dan pembantaian 24 orang warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan di Haditha, dicoba ditutup-tutupi. Bahkan, pembunuhan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Ishaqi dibenarkan oleh para petinggi militer Amerika.Karena itu, harus menjadi catatan kita bahwa Menhan Rumsfeld sangat bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat dan ribuan rakyat Iraq. Jadi, kita jangan langsung gembira atas kunjungan Rumsfeld. Saya yakin, dia membawa agenda tersembunyi. Sebab, dalam informasi yang sementara ini disampaikan, tidak akan ada konferensi pers, tidak ada kontak dengan kalangan LSM, dan sebagainya. Rumsfeld harus kita sadarkan bahwa kebijakan Neo-Con yang diusungnya itu telah menyebabkan penderitaan bagi banyak orang di luar Amerika. Kita bersikap wajar saja, tidak perlu terlalu berharap banyak terhadap kunjungannya itu. Toh, sampai sekarang, meski tahun lalu sudah diomongkan Presiden Bush, Amerika tetap mengisolasi dan mengembargo militer Indonesia.
Djoko Susilo, anggota Komisi Pertahanan DPR RI
Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari ini, Selasa, 6 Juni 2006, dijadwalkan memulai lawatan resminya ke Jakarta. Tentu, itu merupakan perkembangan baru. Sebab, selama menjabat menteri pertahanan, baru kali ini Rumsfeld ke Indonesia. Banyak harapan diletakkan pada kunjungan tokoh Neo-Conservative itu. Salah satunya adalah diakhirinya embargo peralatan militer AS atas Indonesia yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun.Rumsfeld memang bukan orang sembarangan. Selain jabatannya sebagai menteri pertahanan, dia bersama Paul Wolfowitz, Richard Perle, Irving Kristol, Karl Rove, serta Condoleza Rice adalah tokoh-tokoh Neo-Conservative yang mengendalikan kebijakan pertahanan dan luar negeri Amerika Serikat. Mereka itulah orang-orang di balik layar yang menjerumuskan George Bush untuk menginvasi Afghanistan, Iraq, dan bersikap keras terhadap Iran. Selain itu, tokoh-tokoh Neo-Con tersebut sangat bertanggung jawab dalam kebijakan pro-Zionis Israel sesuai dengan agenda politik kelompok fundamentalis Kristen sayap kanan.
Sebelum menjabat menteri pertahanan di masa Presiden George W. Bush, dia pernah mengabdi kepada Ronald Reagan, juga sebagai menteri pertahanan. Dalam jabatannya di masa Reagan itulah, dia mempunyai peranan penting yang tidak bisa dilupakan dan menjadi ironi di masa Bush Jr. Dalam hal ini, Rumsfeld saat itu sempat mengunjungi Saddam Hussein dan berfoto mesra dengan diktator Iraq tersebut.Memang, atas arahan Rumsfeld pula, pemerintah Reagan yang waktu itu resminya bersikap netral dalam perang Iraq melawan Iran, nyata-nyata mendukung Saddam Hussein. Nizar Hamdoon, Dubes Iraq di Washington DC saat itu, mendapat akses luar bisa dari Amerika lewat Rumsfeld. Misalnya, mudah mendapatkan kredit baik untuk membeli pangan maupun persenjataan Amerika. Yang lebih penting lagi, AS juga memberikan data intelijen dari foto-foto satelit dan sumber-sumber lainnya mengenai posisi pasukan Iran dan data militer lainnya. Dengan segala daya, Amerika habis-habisan membantu Saddam agar Iran tidak bisa menang.Juga DiplomatikBantuan Washington kepada Saddam Hussein bukan hanya masalah militer dan logistik lainnya, tetapi juga di bidang diplomatik. Pada 1983, misalnya, Iran melaporkan bahwa pasukan Iraq mulai menggunakan senjata kimia. Sesuai dengan protokol Jenewa, laporan itu harus ditindaklanjuti masyarakat internasional, khususnya DK PBB. Tetapi, dengan bantuan AS, komplain Iran berhasil dibungkam dan tidak sampai berlanjut ke DK PBB.Menurut laporan intelijen yang sekarang sudah dideklasifikasi -dinyatakan tidak rahasia lagi- pada 21 November 1983, Lawrence Eagleburger yang waktu itu menjabat deputi Menlu mendapat informasi akurat dari Jonathan T. Howe, asisten Menlu urusan Timur Tengah dan Asia Selatan mengenai penggunaan senjata kimia oleh Iraq. Saat itu, Howe merekomendasikan kepada Deplu AS agar segera memanggil Dubes Iraq di Washington DC untuk membicarakan persoalan tersebut.Tetapi, karena Rumsfeld dan sekutunya yang berada di sekitar Reagan waktu itu sedang "mesra-mesranya" dengan Saddam Hussein, saran dan rekomendasi pejabat senior Deplu AS tersebut tidak dihiraukan. Puluhan ribu warga sipil dan pasukan Iran tewas karena kejamnya senjata kimia Saddam Hussein. Tetapi, karena saat itu Saddam sangat bermanfaat bagi Amerika, maka kekejamannya tersebut tidak mendapat sanksi apa pun. Bahkan, dia malah dipuja-puja sebagai tokoh yang melawan "fundamentalisme Islam" yang dipimpin Ayatullah Khomeini.Selama perang Iran v Iraq itu, Rumsfeld bolak-balik bertemu Saddam Hussein atau pun utusannya. Pada Maret 1984, meski fakta Iraq terus menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah masal (weapons of mass destruction), Rumsfeld dan para petinggi Amerika tetap merestuinya. Sebulan kemudian, pada April 1984, kemesraan dengan Saddam ditingkatkan dengan penjualan helikopter Bell Textron yang resminya not for military purpose (bukan untuk kepentingan militer). Mengapa Rumsfeld makin mesra dengan Saddam? Jawabannya jelas, karena bosnya, Presiden Ronald Reagan, sudah mengeluarkan presidential directive (NSDD 139), yakni meskipun secara halus Iraq harus dikecam atas penggunaan senjata kimia, Amerika harus mencegah dengan segala daya, jangan sampai rezim Saddam Hussein runtuh karena kekalahannya memerangi Iran. Rumsfeld jelas tahu bahwa rezim Saddam sangat tidak bermoral dan biadab. Sebab, Saddam bukan hanya bersikap bengis terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, yaitu suku Kurdi, dan terhadap pasukan Iran. MengherankanKarena itu, sungguh sangat mengherankan ketika mendorong Presiden George W. Bush memerangi Saddam Hussein, argumen yang dibangun Rumsfeld dan kawan-kawannya dari kelompok Neo-Conservative ialah "menyingkirkan tiran biadab" dan menghentikan senjata pemusnah masal. Bagi warga Amerika yang kritis dan masyarakat internasional, pernyataan Bush yang didukung Rumdfeld juga sangat menggelikan.
Sayang, mayoritas warga Amerika terbuai oleh janji pepesan kosong kaum Neo-Con, yang menurut analisis Prof Jihn Mershemer dari University of Chicago, memerangi Iraq atas pesanan Israel via AIPAC (American Israeli Public Affairs Committee), sebuah kelompok lob yang sangat berkuasa di Washington DC.Lebih dari 2.000 tentara Amerika tewas di Iraq, ribuan lainnya cacat atau luka-luka hanya karena dorongan keserakahan kaum Neo-Conservative itu. Nyatanya, tuduhan Saddam memiliki senjata nuklir dan WMD (weapons of mass destruction) sama sekali tidak terbukti. Tetapi, bagi Rumsfeld, semuanya halal saja. Nyawa dan kerusakan masyarakat Iraq bukan menjadi pertimbangannya. Akibat sikap gegabahnya itu, dunia kini semakin tidak aman dan bahkan di Iraq tiap hari terjadi pembunuhan, baik terhadap masyarakat biasa maupun tentara pendudukan Amerika. Pasukan Amerika pun ternyata bermoral rendah dan berkali-kali terbukti melakukan kekejaman serta pembunuhan terhadap rakyat sipil, tetapi tidak ada tindakan berarti. Skandal penjara Abu Ghraib dan pembantaian 24 orang warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan di Haditha, dicoba ditutup-tutupi. Bahkan, pembunuhan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Ishaqi dibenarkan oleh para petinggi militer Amerika.Karena itu, harus menjadi catatan kita bahwa Menhan Rumsfeld sangat bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat dan ribuan rakyat Iraq. Jadi, kita jangan langsung gembira atas kunjungan Rumsfeld. Saya yakin, dia membawa agenda tersembunyi. Sebab, dalam informasi yang sementara ini disampaikan, tidak akan ada konferensi pers, tidak ada kontak dengan kalangan LSM, dan sebagainya. Rumsfeld harus kita sadarkan bahwa kebijakan Neo-Con yang diusungnya itu telah menyebabkan penderitaan bagi banyak orang di luar Amerika. Kita bersikap wajar saja, tidak perlu terlalu berharap banyak terhadap kunjungannya itu. Toh, sampai sekarang, meski tahun lalu sudah diomongkan Presiden Bush, Amerika tetap mengisolasi dan mengembargo militer Indonesia.
Djoko Susilo, anggota Komisi Pertahanan DPR RI
Donald Rumsfeld Drakula, Obey him
Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari ini, Selasa, 6 Juni 2006, dijadwalkan memulai lawatan resminya ke Jakarta. Tentu, itu merupakan perkembangan baru. Sebab, selama menjabat menteri pertahanan, baru kali ini Rumsfeld ke Indonesia. Banyak harapan diletakkan pada kunjungan tokoh Neo-Conservative itu. Salah satunya adalah diakhirinya embargo peralatan militer AS atas Indonesia yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun.Rumsfeld memang bukan orang sembarangan. Selain jabatannya sebagai menteri pertahanan, dia bersama Paul Wolfowitz, Richard Perle, Irving Kristol, Karl Rove, serta Condoleza Rice adalah tokoh-tokoh Neo-Conservative yang mengendalikan kebijakan pertahanan dan luar negeri Amerika Serikat. Mereka itulah orang-orang di balik layar yang menjerumuskan George Bush untuk menginvasi Afghanistan, Iraq, dan bersikap keras terhadap Iran. Selain itu, tokoh-tokoh Neo-Con tersebut sangat bertanggung jawab dalam kebijakan pro-Zionis Israel sesuai dengan agenda politik kelompok fundamentalis Kristen sayap kanan.
Sebelum menjabat menteri pertahanan di masa Presiden George W. Bush, dia pernah mengabdi kepada Ronald Reagan, juga sebagai menteri pertahanan. Dalam jabatannya di masa Reagan itulah, dia mempunyai peranan penting yang tidak bisa dilupakan dan menjadi ironi di masa Bush Jr. Dalam hal ini, Rumsfeld saat itu sempat mengunjungi Saddam Hussein dan berfoto mesra dengan diktator Iraq tersebut.Memang, atas arahan Rumsfeld pula, pemerintah Reagan yang waktu itu resminya bersikap netral dalam perang Iraq melawan Iran, nyata-nyata mendukung Saddam Hussein. Nizar Hamdoon, Dubes Iraq di Washington DC saat itu, mendapat akses luar bisa dari Amerika lewat Rumsfeld. Misalnya, mudah mendapatkan kredit baik untuk membeli pangan maupun persenjataan Amerika. Yang lebih penting lagi, AS juga memberikan data intelijen dari foto-foto satelit dan sumber-sumber lainnya mengenai posisi pasukan Iran dan data militer lainnya. Dengan segala daya, Amerika habis-habisan membantu Saddam agar Iran tidak bisa menang.Juga DiplomatikBantuan Washington kepada Saddam Hussein bukan hanya masalah militer dan logistik lainnya, tetapi juga di bidang diplomatik. Pada 1983, misalnya, Iran melaporkan bahwa pasukan Iraq mulai menggunakan senjata kimia. Sesuai dengan protokol Jenewa, laporan itu harus ditindaklanjuti masyarakat internasional, khususnya DK PBB. Tetapi, dengan bantuan AS, komplain Iran berhasil dibungkam dan tidak sampai berlanjut ke DK PBB.Menurut laporan intelijen yang sekarang sudah dideklasifikasi -dinyatakan tidak rahasia lagi- pada 21 November 1983, Lawrence Eagleburger yang waktu itu menjabat deputi Menlu mendapat informasi akurat dari Jonathan T. Howe, asisten Menlu urusan Timur Tengah dan Asia Selatan mengenai penggunaan senjata kimia oleh Iraq. Saat itu, Howe merekomendasikan kepada Deplu AS agar segera memanggil Dubes Iraq di Washington DC untuk membicarakan persoalan tersebut.Tetapi, karena Rumsfeld dan sekutunya yang berada di sekitar Reagan waktu itu sedang "mesra-mesranya" dengan Saddam Hussein, saran dan rekomendasi pejabat senior Deplu AS tersebut tidak dihiraukan. Puluhan ribu warga sipil dan pasukan Iran tewas karena kejamnya senjata kimia Saddam Hussein. Tetapi, karena saat itu Saddam sangat bermanfaat bagi Amerika, maka kekejamannya tersebut tidak mendapat sanksi apa pun. Bahkan, dia malah dipuja-puja sebagai tokoh yang melawan "fundamentalisme Islam" yang dipimpin Ayatullah Khomeini.Selama perang Iran v Iraq itu, Rumsfeld bolak-balik bertemu Saddam Hussein atau pun utusannya. Pada Maret 1984, meski fakta Iraq terus menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah masal (weapons of mass destruction), Rumsfeld dan para petinggi Amerika tetap merestuinya. Sebulan kemudian, pada April 1984, kemesraan dengan Saddam ditingkatkan dengan penjualan helikopter Bell Textron yang resminya not for military purpose (bukan untuk kepentingan militer). Mengapa Rumsfeld makin mesra dengan Saddam? Jawabannya jelas, karena bosnya, Presiden Ronald Reagan, sudah mengeluarkan presidential directive (NSDD 139), yakni meskipun secara halus Iraq harus dikecam atas penggunaan senjata kimia, Amerika harus mencegah dengan segala daya, jangan sampai rezim Saddam Hussein runtuh karena kekalahannya memerangi Iran. Rumsfeld jelas tahu bahwa rezim Saddam sangat tidak bermoral dan biadab. Sebab, Saddam bukan hanya bersikap bengis terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, yaitu suku Kurdi, dan terhadap pasukan Iran. MengherankanKarena itu, sungguh sangat mengherankan ketika mendorong Presiden George W. Bush memerangi Saddam Hussein, argumen yang dibangun Rumsfeld dan kawan-kawannya dari kelompok Neo-Conservative ialah "menyingkirkan tiran biadab" dan menghentikan senjata pemusnah masal. Bagi warga Amerika yang kritis dan masyarakat internasional, pernyataan Bush yang didukung Rumdfeld juga sangat menggelikan.
Sayang, mayoritas warga Amerika terbuai oleh janji pepesan kosong kaum Neo-Con, yang menurut analisis Prof Jihn Mershemer dari University of Chicago, memerangi Iraq atas pesanan Israel via AIPAC (American Israeli Public Affairs Committee), sebuah kelompok lob yang sangat berkuasa di Washington DC.Lebih dari 2.000 tentara Amerika tewas di Iraq, ribuan lainnya cacat atau luka-luka hanya karena dorongan keserakahan kaum Neo-Conservative itu. Nyatanya, tuduhan Saddam memiliki senjata nuklir dan WMD (weapons of mass destruction) sama sekali tidak terbukti. Tetapi, bagi Rumsfeld, semuanya halal saja. Nyawa dan kerusakan masyarakat Iraq bukan menjadi pertimbangannya. Akibat sikap gegabahnya itu, dunia kini semakin tidak aman dan bahkan di Iraq tiap hari terjadi pembunuhan, baik terhadap masyarakat biasa maupun tentara pendudukan Amerika. Pasukan Amerika pun ternyata bermoral rendah dan berkali-kali terbukti melakukan kekejaman serta pembunuhan terhadap rakyat sipil, tetapi tidak ada tindakan berarti. Skandal penjara Abu Ghraib dan pembantaian 24 orang warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan di Haditha, dicoba ditutup-tutupi. Bahkan, pembunuhan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Ishaqi dibenarkan oleh para petinggi militer Amerika.Karena itu, harus menjadi catatan kita bahwa Menhan Rumsfeld sangat bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat dan ribuan rakyat Iraq. Jadi, kita jangan langsung gembira atas kunjungan Rumsfeld. Saya yakin, dia membawa agenda tersembunyi. Sebab, dalam informasi yang sementara ini disampaikan, tidak akan ada konferensi pers, tidak ada kontak dengan kalangan LSM, dan sebagainya. Rumsfeld harus kita sadarkan bahwa kebijakan Neo-Con yang diusungnya itu telah menyebabkan penderitaan bagi banyak orang di luar Amerika. Kita bersikap wajar saja, tidak perlu terlalu berharap banyak terhadap kunjungannya itu. Toh, sampai sekarang, meski tahun lalu sudah diomongkan Presiden Bush, Amerika tetap mengisolasi dan mengembargo militer Indonesia.
Djoko Susilo, anggota Komisi Pertahanan DPR RI
Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari ini, Selasa, 6 Juni 2006, dijadwalkan memulai lawatan resminya ke Jakarta. Tentu, itu merupakan perkembangan baru. Sebab, selama menjabat menteri pertahanan, baru kali ini Rumsfeld ke Indonesia. Banyak harapan diletakkan pada kunjungan tokoh Neo-Conservative itu. Salah satunya adalah diakhirinya embargo peralatan militer AS atas Indonesia yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun.Rumsfeld memang bukan orang sembarangan. Selain jabatannya sebagai menteri pertahanan, dia bersama Paul Wolfowitz, Richard Perle, Irving Kristol, Karl Rove, serta Condoleza Rice adalah tokoh-tokoh Neo-Conservative yang mengendalikan kebijakan pertahanan dan luar negeri Amerika Serikat. Mereka itulah orang-orang di balik layar yang menjerumuskan George Bush untuk menginvasi Afghanistan, Iraq, dan bersikap keras terhadap Iran. Selain itu, tokoh-tokoh Neo-Con tersebut sangat bertanggung jawab dalam kebijakan pro-Zionis Israel sesuai dengan agenda politik kelompok fundamentalis Kristen sayap kanan.
Sebelum menjabat menteri pertahanan di masa Presiden George W. Bush, dia pernah mengabdi kepada Ronald Reagan, juga sebagai menteri pertahanan. Dalam jabatannya di masa Reagan itulah, dia mempunyai peranan penting yang tidak bisa dilupakan dan menjadi ironi di masa Bush Jr. Dalam hal ini, Rumsfeld saat itu sempat mengunjungi Saddam Hussein dan berfoto mesra dengan diktator Iraq tersebut.Memang, atas arahan Rumsfeld pula, pemerintah Reagan yang waktu itu resminya bersikap netral dalam perang Iraq melawan Iran, nyata-nyata mendukung Saddam Hussein. Nizar Hamdoon, Dubes Iraq di Washington DC saat itu, mendapat akses luar bisa dari Amerika lewat Rumsfeld. Misalnya, mudah mendapatkan kredit baik untuk membeli pangan maupun persenjataan Amerika. Yang lebih penting lagi, AS juga memberikan data intelijen dari foto-foto satelit dan sumber-sumber lainnya mengenai posisi pasukan Iran dan data militer lainnya. Dengan segala daya, Amerika habis-habisan membantu Saddam agar Iran tidak bisa menang.Juga DiplomatikBantuan Washington kepada Saddam Hussein bukan hanya masalah militer dan logistik lainnya, tetapi juga di bidang diplomatik. Pada 1983, misalnya, Iran melaporkan bahwa pasukan Iraq mulai menggunakan senjata kimia. Sesuai dengan protokol Jenewa, laporan itu harus ditindaklanjuti masyarakat internasional, khususnya DK PBB. Tetapi, dengan bantuan AS, komplain Iran berhasil dibungkam dan tidak sampai berlanjut ke DK PBB.Menurut laporan intelijen yang sekarang sudah dideklasifikasi -dinyatakan tidak rahasia lagi- pada 21 November 1983, Lawrence Eagleburger yang waktu itu menjabat deputi Menlu mendapat informasi akurat dari Jonathan T. Howe, asisten Menlu urusan Timur Tengah dan Asia Selatan mengenai penggunaan senjata kimia oleh Iraq. Saat itu, Howe merekomendasikan kepada Deplu AS agar segera memanggil Dubes Iraq di Washington DC untuk membicarakan persoalan tersebut.Tetapi, karena Rumsfeld dan sekutunya yang berada di sekitar Reagan waktu itu sedang "mesra-mesranya" dengan Saddam Hussein, saran dan rekomendasi pejabat senior Deplu AS tersebut tidak dihiraukan. Puluhan ribu warga sipil dan pasukan Iran tewas karena kejamnya senjata kimia Saddam Hussein. Tetapi, karena saat itu Saddam sangat bermanfaat bagi Amerika, maka kekejamannya tersebut tidak mendapat sanksi apa pun. Bahkan, dia malah dipuja-puja sebagai tokoh yang melawan "fundamentalisme Islam" yang dipimpin Ayatullah Khomeini.Selama perang Iran v Iraq itu, Rumsfeld bolak-balik bertemu Saddam Hussein atau pun utusannya. Pada Maret 1984, meski fakta Iraq terus menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah masal (weapons of mass destruction), Rumsfeld dan para petinggi Amerika tetap merestuinya. Sebulan kemudian, pada April 1984, kemesraan dengan Saddam ditingkatkan dengan penjualan helikopter Bell Textron yang resminya not for military purpose (bukan untuk kepentingan militer). Mengapa Rumsfeld makin mesra dengan Saddam? Jawabannya jelas, karena bosnya, Presiden Ronald Reagan, sudah mengeluarkan presidential directive (NSDD 139), yakni meskipun secara halus Iraq harus dikecam atas penggunaan senjata kimia, Amerika harus mencegah dengan segala daya, jangan sampai rezim Saddam Hussein runtuh karena kekalahannya memerangi Iran. Rumsfeld jelas tahu bahwa rezim Saddam sangat tidak bermoral dan biadab. Sebab, Saddam bukan hanya bersikap bengis terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, yaitu suku Kurdi, dan terhadap pasukan Iran. MengherankanKarena itu, sungguh sangat mengherankan ketika mendorong Presiden George W. Bush memerangi Saddam Hussein, argumen yang dibangun Rumsfeld dan kawan-kawannya dari kelompok Neo-Conservative ialah "menyingkirkan tiran biadab" dan menghentikan senjata pemusnah masal. Bagi warga Amerika yang kritis dan masyarakat internasional, pernyataan Bush yang didukung Rumdfeld juga sangat menggelikan.
Sayang, mayoritas warga Amerika terbuai oleh janji pepesan kosong kaum Neo-Con, yang menurut analisis Prof Jihn Mershemer dari University of Chicago, memerangi Iraq atas pesanan Israel via AIPAC (American Israeli Public Affairs Committee), sebuah kelompok lob yang sangat berkuasa di Washington DC.Lebih dari 2.000 tentara Amerika tewas di Iraq, ribuan lainnya cacat atau luka-luka hanya karena dorongan keserakahan kaum Neo-Conservative itu. Nyatanya, tuduhan Saddam memiliki senjata nuklir dan WMD (weapons of mass destruction) sama sekali tidak terbukti. Tetapi, bagi Rumsfeld, semuanya halal saja. Nyawa dan kerusakan masyarakat Iraq bukan menjadi pertimbangannya. Akibat sikap gegabahnya itu, dunia kini semakin tidak aman dan bahkan di Iraq tiap hari terjadi pembunuhan, baik terhadap masyarakat biasa maupun tentara pendudukan Amerika. Pasukan Amerika pun ternyata bermoral rendah dan berkali-kali terbukti melakukan kekejaman serta pembunuhan terhadap rakyat sipil, tetapi tidak ada tindakan berarti. Skandal penjara Abu Ghraib dan pembantaian 24 orang warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan di Haditha, dicoba ditutup-tutupi. Bahkan, pembunuhan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Ishaqi dibenarkan oleh para petinggi militer Amerika.Karena itu, harus menjadi catatan kita bahwa Menhan Rumsfeld sangat bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat dan ribuan rakyat Iraq. Jadi, kita jangan langsung gembira atas kunjungan Rumsfeld. Saya yakin, dia membawa agenda tersembunyi. Sebab, dalam informasi yang sementara ini disampaikan, tidak akan ada konferensi pers, tidak ada kontak dengan kalangan LSM, dan sebagainya. Rumsfeld harus kita sadarkan bahwa kebijakan Neo-Con yang diusungnya itu telah menyebabkan penderitaan bagi banyak orang di luar Amerika. Kita bersikap wajar saja, tidak perlu terlalu berharap banyak terhadap kunjungannya itu. Toh, sampai sekarang, meski tahun lalu sudah diomongkan Presiden Bush, Amerika tetap mengisolasi dan mengembargo militer Indonesia.
Djoko Susilo, anggota Komisi Pertahanan DPR RI
الأربعاء، أبريل ٢٨، ٢٠٠٤
The New President
Aku sudah banyak ngaji di sana-sini, ngaji salafy lewat internet dan majalah, ngaji dan ikut gerakan muhammadiyah lewat Pemuda Muhammadiyah, ikut Hizbut Tahrir, Forum Remaja Masjid se-Jogja, NU, dan mengikuti perkembangan dan kehidupan gerakan² kaum muslim di luar negeri. Baru-baru ini aja mengamati PKS. Karena lama di HT, aku cukup bisa memahami kenapa mereka Golput. Sebelum masa kampanye aku juga tidak terlalu peduli dg pemilu, tapi aku masih berpendapat aku harus tetap nyoblos. E.e..e.. manusia memang cepat berubah.. karena tiap hari obrolan disana-sini walaupun dengan teman² yg berbeda² adl seputar pemilu, jadi ikutan getol deh. Pokoknya partai Islam dan partai dakwah harus menang supaya dakwah di Dewan. Korupsi, kemaksiatan harus diberantas.
Lewat milih anggota DPR, sekarang wes cedhak milih presiden. Lobi-lobi politik para calon gencar diberitakan media. Sak karepmu dho ribut, sing jelas aku arep milih dan mendakwahkan sing paling cocok dadi presiden diantara sing mampu yho sing paling kuat aqidah'e. Ora syirik dan jadi presiden adalah amanah dan ibadah. Nek menurutmu sopo sing cocok..?? SBY kah(digosipke elek², aku dewe rung moco bukti²ne), Gus Dur kah?? (gitu aja kok repot), Mega kah?? (beliau ndak paham Islam, gimana mau memimpin umat Islam??), Wiranto kah??(aku ra kenal okeh), Amin Rais kah??(kalo ini aku hafal sepak terjangnya). Ndonga wae yuk. Supaya lobinya si yg punya aqidah kuat ini kerja extra keras koalisi,kampanye dsb supaya mengalahkan calon lain dan menjadi The New President (Roisun Jadiid) yang menyelamatkan bangsa. Kalopun gagal, pasti ALLAH membuat rencana lain yg lebih baik. Yg penting kita harus ikhlas. Bagaimana menurutmu?? Trus bagaimana tentang kondisi kita sekarang ini?? Kamu pernah ikut gerakan apa aja, cerita donk?? Tanggapi aja deh semuanya, terserah. Wassalamu'alaikum.
Lewat milih anggota DPR, sekarang wes cedhak milih presiden. Lobi-lobi politik para calon gencar diberitakan media. Sak karepmu dho ribut, sing jelas aku arep milih dan mendakwahkan sing paling cocok dadi presiden diantara sing mampu yho sing paling kuat aqidah'e. Ora syirik dan jadi presiden adalah amanah dan ibadah. Nek menurutmu sopo sing cocok..?? SBY kah(digosipke elek², aku dewe rung moco bukti²ne), Gus Dur kah?? (gitu aja kok repot), Mega kah?? (beliau ndak paham Islam, gimana mau memimpin umat Islam??), Wiranto kah??(aku ra kenal okeh), Amin Rais kah??(kalo ini aku hafal sepak terjangnya). Ndonga wae yuk. Supaya lobinya si yg punya aqidah kuat ini kerja extra keras koalisi,kampanye dsb supaya mengalahkan calon lain dan menjadi The New President (Roisun Jadiid) yang menyelamatkan bangsa. Kalopun gagal, pasti ALLAH membuat rencana lain yg lebih baik. Yg penting kita harus ikhlas. Bagaimana menurutmu?? Trus bagaimana tentang kondisi kita sekarang ini?? Kamu pernah ikut gerakan apa aja, cerita donk?? Tanggapi aja deh semuanya, terserah. Wassalamu'alaikum.
Ujian Mid Semester
AlhamduLILLAH, gara² mid aku malah jadi rajin kuliah dan belajar. Karena sebelumnya sulit banget dan males waktu mau mulai belajar terutama di sela² kerja dan momong. Rasa pesimis bisa lulus dan tidak kena DO karena kesulitan memahami pelajaran langsung terkikis ketika melihat soal ujian yang tidak terlalu sulit (kayaknya sih hasilnya lumayan,doakan ya..!!) dan sukses menghafal Al-Mursalat. Keterpaksaan belajar disini ternyata membuka pemahamanku terhadap materi. Begitu juga dengan menjawab soal ujian yg variatif dan memusingkan eh.. malah semakin paham ilmunya. Aku bersyukur karena ALLAH memberi ilmunya dari arah yg tdk diduga²/terprediksi. Pokoknya mulai minggu ini aku tidak akan pernah absen kuliah 1 pun sampai Ujian Akhir nanti. Bismillah.
السبت، فبراير ٢١، ٢٠٠٤
Kesadaran Baru
Renungan Jum'at : Sesungguhnya ALLAH membeli seluruh milik manusia kemudian dibayar dengan surga dan ridhoNYA. Perumpamaannya ialah seperti orang kaya yang sangat kasihan terhadap pedagang yang miskin kemudian memborong dagangannya padahal dia tidak butuh barang tsb. Tapi si miskinlah yang butuh uang untuk kelangsungan hidupnya. ALLAH tidak butuh harta dan jiwa manusia tapi manusialah yang harus menjualnya untuk kelangsungan hidupnya dan mendapat bayaran dariNYA. Sungguh nista orang yang tidak mau menjualnya karena ketidaktahuannya akan pembelian akbar dari Sang Pencipta. Bahkan dia
Assalamu'alaikum wr wb
Ba'da tahmid wa sholawat marilah selalu kita meningkatkan iman taqwa kepada ALLAH. Ingin kujadikan diary ini sebagai tempat curhatku, semoga ikhwan/akhwat dapat memberikan sumbang saran, kritik, komentar maupun solusi pada cerita, pengalaman dan apapun yang kutulis di sini.
"Innamal mu'minuuna ikhwah", maka saudaramu ini perlu bantuan antum. "Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa wa laa ta'aawanu 'alal itsmi wal 'udwan"
"Innamal mu'minuuna ikhwah", maka saudaramu ini perlu bantuan antum. "Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa wa laa ta'aawanu 'alal itsmi wal 'udwan"