<$BlogRSDURL$>

الأربعاء، يونيو ٠٧، ٢٠٠٦

Donald Rumsfeld Drakula, Obey him

Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari ini, Selasa, 6 Juni 2006, dijadwalkan memulai lawatan resminya ke Jakarta. Tentu, itu merupakan perkembangan baru. Sebab, selama menjabat menteri pertahanan, baru kali ini Rumsfeld ke Indonesia. Banyak harapan diletakkan pada kunjungan tokoh Neo-Conservative itu. Salah satunya adalah diakhirinya embargo peralatan militer AS atas Indonesia yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun.Rumsfeld memang bukan orang sembarangan. Selain jabatannya sebagai menteri pertahanan, dia bersama Paul Wolfowitz, Richard Perle, Irving Kristol, Karl Rove, serta Condoleza Rice adalah tokoh-tokoh Neo-Conservative yang mengendalikan kebijakan pertahanan dan luar negeri Amerika Serikat. Mereka itulah orang-orang di balik layar yang menjerumuskan George Bush untuk menginvasi Afghanistan, Iraq, dan bersikap keras terhadap Iran. Selain itu, tokoh-tokoh Neo-Con tersebut sangat bertanggung jawab dalam kebijakan pro-Zionis Israel sesuai dengan agenda politik kelompok fundamentalis Kristen sayap kanan.
Sebelum menjabat menteri pertahanan di masa Presiden George W. Bush, dia pernah mengabdi kepada Ronald Reagan, juga sebagai menteri pertahanan. Dalam jabatannya di masa Reagan itulah, dia mempunyai peranan penting yang tidak bisa dilupakan dan menjadi ironi di masa Bush Jr. Dalam hal ini, Rumsfeld saat itu sempat mengunjungi Saddam Hussein dan berfoto mesra dengan diktator Iraq tersebut.Memang, atas arahan Rumsfeld pula, pemerintah Reagan yang waktu itu resminya bersikap netral dalam perang Iraq melawan Iran, nyata-nyata mendukung Saddam Hussein. Nizar Hamdoon, Dubes Iraq di Washington DC saat itu, mendapat akses luar bisa dari Amerika lewat Rumsfeld. Misalnya, mudah mendapatkan kredit baik untuk membeli pangan maupun persenjataan Amerika. Yang lebih penting lagi, AS juga memberikan data intelijen dari foto-foto satelit dan sumber-sumber lainnya mengenai posisi pasukan Iran dan data militer lainnya. Dengan segala daya, Amerika habis-habisan membantu Saddam agar Iran tidak bisa menang.Juga DiplomatikBantuan Washington kepada Saddam Hussein bukan hanya masalah militer dan logistik lainnya, tetapi juga di bidang diplomatik. Pada 1983, misalnya, Iran melaporkan bahwa pasukan Iraq mulai menggunakan senjata kimia. Sesuai dengan protokol Jenewa, laporan itu harus ditindaklanjuti masyarakat internasional, khususnya DK PBB. Tetapi, dengan bantuan AS, komplain Iran berhasil dibungkam dan tidak sampai berlanjut ke DK PBB.Menurut laporan intelijen yang sekarang sudah dideklasifikasi -dinyatakan tidak rahasia lagi- pada 21 November 1983, Lawrence Eagleburger yang waktu itu menjabat deputi Menlu mendapat informasi akurat dari Jonathan T. Howe, asisten Menlu urusan Timur Tengah dan Asia Selatan mengenai penggunaan senjata kimia oleh Iraq. Saat itu, Howe merekomendasikan kepada Deplu AS agar segera memanggil Dubes Iraq di Washington DC untuk membicarakan persoalan tersebut.Tetapi, karena Rumsfeld dan sekutunya yang berada di sekitar Reagan waktu itu sedang "mesra-mesranya" dengan Saddam Hussein, saran dan rekomendasi pejabat senior Deplu AS tersebut tidak dihiraukan. Puluhan ribu warga sipil dan pasukan Iran tewas karena kejamnya senjata kimia Saddam Hussein. Tetapi, karena saat itu Saddam sangat bermanfaat bagi Amerika, maka kekejamannya tersebut tidak mendapat sanksi apa pun. Bahkan, dia malah dipuja-puja sebagai tokoh yang melawan "fundamentalisme Islam" yang dipimpin Ayatullah Khomeini.Selama perang Iran v Iraq itu, Rumsfeld bolak-balik bertemu Saddam Hussein atau pun utusannya. Pada Maret 1984, meski fakta Iraq terus menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah masal (weapons of mass destruction), Rumsfeld dan para petinggi Amerika tetap merestuinya. Sebulan kemudian, pada April 1984, kemesraan dengan Saddam ditingkatkan dengan penjualan helikopter Bell Textron yang resminya not for military purpose (bukan untuk kepentingan militer). Mengapa Rumsfeld makin mesra dengan Saddam? Jawabannya jelas, karena bosnya, Presiden Ronald Reagan, sudah mengeluarkan presidential directive (NSDD 139), yakni meskipun secara halus Iraq harus dikecam atas penggunaan senjata kimia, Amerika harus mencegah dengan segala daya, jangan sampai rezim Saddam Hussein runtuh karena kekalahannya memerangi Iran. Rumsfeld jelas tahu bahwa rezim Saddam sangat tidak bermoral dan biadab. Sebab, Saddam bukan hanya bersikap bengis terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, yaitu suku Kurdi, dan terhadap pasukan Iran. MengherankanKarena itu, sungguh sangat mengherankan ketika mendorong Presiden George W. Bush memerangi Saddam Hussein, argumen yang dibangun Rumsfeld dan kawan-kawannya dari kelompok Neo-Conservative ialah "menyingkirkan tiran biadab" dan menghentikan senjata pemusnah masal. Bagi warga Amerika yang kritis dan masyarakat internasional, pernyataan Bush yang didukung Rumdfeld juga sangat menggelikan.
Sayang, mayoritas warga Amerika terbuai oleh janji pepesan kosong kaum Neo-Con, yang menurut analisis Prof Jihn Mershemer dari University of Chicago, memerangi Iraq atas pesanan Israel via AIPAC (American Israeli Public Affairs Committee), sebuah kelompok lob yang sangat berkuasa di Washington DC.Lebih dari 2.000 tentara Amerika tewas di Iraq, ribuan lainnya cacat atau luka-luka hanya karena dorongan keserakahan kaum Neo-Conservative itu. Nyatanya, tuduhan Saddam memiliki senjata nuklir dan WMD (weapons of mass destruction) sama sekali tidak terbukti. Tetapi, bagi Rumsfeld, semuanya halal saja. Nyawa dan kerusakan masyarakat Iraq bukan menjadi pertimbangannya. Akibat sikap gegabahnya itu, dunia kini semakin tidak aman dan bahkan di Iraq tiap hari terjadi pembunuhan, baik terhadap masyarakat biasa maupun tentara pendudukan Amerika. Pasukan Amerika pun ternyata bermoral rendah dan berkali-kali terbukti melakukan kekejaman serta pembunuhan terhadap rakyat sipil, tetapi tidak ada tindakan berarti. Skandal penjara Abu Ghraib dan pembantaian 24 orang warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan di Haditha, dicoba ditutup-tutupi. Bahkan, pembunuhan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Ishaqi dibenarkan oleh para petinggi militer Amerika.Karena itu, harus menjadi catatan kita bahwa Menhan Rumsfeld sangat bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat dan ribuan rakyat Iraq. Jadi, kita jangan langsung gembira atas kunjungan Rumsfeld. Saya yakin, dia membawa agenda tersembunyi. Sebab, dalam informasi yang sementara ini disampaikan, tidak akan ada konferensi pers, tidak ada kontak dengan kalangan LSM, dan sebagainya. Rumsfeld harus kita sadarkan bahwa kebijakan Neo-Con yang diusungnya itu telah menyebabkan penderitaan bagi banyak orang di luar Amerika. Kita bersikap wajar saja, tidak perlu terlalu berharap banyak terhadap kunjungannya itu. Toh, sampai sekarang, meski tahun lalu sudah diomongkan Presiden Bush, Amerika tetap mengisolasi dan mengembargo militer Indonesia.

Djoko Susilo, anggota Komisi Pertahanan DPR RI

Donald Rumsfeld Drakula, Obey him

Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld hari ini, Selasa, 6 Juni 2006, dijadwalkan memulai lawatan resminya ke Jakarta. Tentu, itu merupakan perkembangan baru. Sebab, selama menjabat menteri pertahanan, baru kali ini Rumsfeld ke Indonesia. Banyak harapan diletakkan pada kunjungan tokoh Neo-Conservative itu. Salah satunya adalah diakhirinya embargo peralatan militer AS atas Indonesia yang sudah berlangsung hampir sepuluh tahun.Rumsfeld memang bukan orang sembarangan. Selain jabatannya sebagai menteri pertahanan, dia bersama Paul Wolfowitz, Richard Perle, Irving Kristol, Karl Rove, serta Condoleza Rice adalah tokoh-tokoh Neo-Conservative yang mengendalikan kebijakan pertahanan dan luar negeri Amerika Serikat. Mereka itulah orang-orang di balik layar yang menjerumuskan George Bush untuk menginvasi Afghanistan, Iraq, dan bersikap keras terhadap Iran. Selain itu, tokoh-tokoh Neo-Con tersebut sangat bertanggung jawab dalam kebijakan pro-Zionis Israel sesuai dengan agenda politik kelompok fundamentalis Kristen sayap kanan.
Sebelum menjabat menteri pertahanan di masa Presiden George W. Bush, dia pernah mengabdi kepada Ronald Reagan, juga sebagai menteri pertahanan. Dalam jabatannya di masa Reagan itulah, dia mempunyai peranan penting yang tidak bisa dilupakan dan menjadi ironi di masa Bush Jr. Dalam hal ini, Rumsfeld saat itu sempat mengunjungi Saddam Hussein dan berfoto mesra dengan diktator Iraq tersebut.Memang, atas arahan Rumsfeld pula, pemerintah Reagan yang waktu itu resminya bersikap netral dalam perang Iraq melawan Iran, nyata-nyata mendukung Saddam Hussein. Nizar Hamdoon, Dubes Iraq di Washington DC saat itu, mendapat akses luar bisa dari Amerika lewat Rumsfeld. Misalnya, mudah mendapatkan kredit baik untuk membeli pangan maupun persenjataan Amerika. Yang lebih penting lagi, AS juga memberikan data intelijen dari foto-foto satelit dan sumber-sumber lainnya mengenai posisi pasukan Iran dan data militer lainnya. Dengan segala daya, Amerika habis-habisan membantu Saddam agar Iran tidak bisa menang.Juga DiplomatikBantuan Washington kepada Saddam Hussein bukan hanya masalah militer dan logistik lainnya, tetapi juga di bidang diplomatik. Pada 1983, misalnya, Iran melaporkan bahwa pasukan Iraq mulai menggunakan senjata kimia. Sesuai dengan protokol Jenewa, laporan itu harus ditindaklanjuti masyarakat internasional, khususnya DK PBB. Tetapi, dengan bantuan AS, komplain Iran berhasil dibungkam dan tidak sampai berlanjut ke DK PBB.Menurut laporan intelijen yang sekarang sudah dideklasifikasi -dinyatakan tidak rahasia lagi- pada 21 November 1983, Lawrence Eagleburger yang waktu itu menjabat deputi Menlu mendapat informasi akurat dari Jonathan T. Howe, asisten Menlu urusan Timur Tengah dan Asia Selatan mengenai penggunaan senjata kimia oleh Iraq. Saat itu, Howe merekomendasikan kepada Deplu AS agar segera memanggil Dubes Iraq di Washington DC untuk membicarakan persoalan tersebut.Tetapi, karena Rumsfeld dan sekutunya yang berada di sekitar Reagan waktu itu sedang "mesra-mesranya" dengan Saddam Hussein, saran dan rekomendasi pejabat senior Deplu AS tersebut tidak dihiraukan. Puluhan ribu warga sipil dan pasukan Iran tewas karena kejamnya senjata kimia Saddam Hussein. Tetapi, karena saat itu Saddam sangat bermanfaat bagi Amerika, maka kekejamannya tersebut tidak mendapat sanksi apa pun. Bahkan, dia malah dipuja-puja sebagai tokoh yang melawan "fundamentalisme Islam" yang dipimpin Ayatullah Khomeini.Selama perang Iran v Iraq itu, Rumsfeld bolak-balik bertemu Saddam Hussein atau pun utusannya. Pada Maret 1984, meski fakta Iraq terus menggunakan senjata kimia atau senjata pemusnah masal (weapons of mass destruction), Rumsfeld dan para petinggi Amerika tetap merestuinya. Sebulan kemudian, pada April 1984, kemesraan dengan Saddam ditingkatkan dengan penjualan helikopter Bell Textron yang resminya not for military purpose (bukan untuk kepentingan militer). Mengapa Rumsfeld makin mesra dengan Saddam? Jawabannya jelas, karena bosnya, Presiden Ronald Reagan, sudah mengeluarkan presidential directive (NSDD 139), yakni meskipun secara halus Iraq harus dikecam atas penggunaan senjata kimia, Amerika harus mencegah dengan segala daya, jangan sampai rezim Saddam Hussein runtuh karena kekalahannya memerangi Iran. Rumsfeld jelas tahu bahwa rezim Saddam sangat tidak bermoral dan biadab. Sebab, Saddam bukan hanya bersikap bengis terhadap rakyatnya sendiri, tetapi juga menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, yaitu suku Kurdi, dan terhadap pasukan Iran. MengherankanKarena itu, sungguh sangat mengherankan ketika mendorong Presiden George W. Bush memerangi Saddam Hussein, argumen yang dibangun Rumsfeld dan kawan-kawannya dari kelompok Neo-Conservative ialah "menyingkirkan tiran biadab" dan menghentikan senjata pemusnah masal. Bagi warga Amerika yang kritis dan masyarakat internasional, pernyataan Bush yang didukung Rumdfeld juga sangat menggelikan.
Sayang, mayoritas warga Amerika terbuai oleh janji pepesan kosong kaum Neo-Con, yang menurut analisis Prof Jihn Mershemer dari University of Chicago, memerangi Iraq atas pesanan Israel via AIPAC (American Israeli Public Affairs Committee), sebuah kelompok lob yang sangat berkuasa di Washington DC.Lebih dari 2.000 tentara Amerika tewas di Iraq, ribuan lainnya cacat atau luka-luka hanya karena dorongan keserakahan kaum Neo-Conservative itu. Nyatanya, tuduhan Saddam memiliki senjata nuklir dan WMD (weapons of mass destruction) sama sekali tidak terbukti. Tetapi, bagi Rumsfeld, semuanya halal saja. Nyawa dan kerusakan masyarakat Iraq bukan menjadi pertimbangannya. Akibat sikap gegabahnya itu, dunia kini semakin tidak aman dan bahkan di Iraq tiap hari terjadi pembunuhan, baik terhadap masyarakat biasa maupun tentara pendudukan Amerika. Pasukan Amerika pun ternyata bermoral rendah dan berkali-kali terbukti melakukan kekejaman serta pembunuhan terhadap rakyat sipil, tetapi tidak ada tindakan berarti. Skandal penjara Abu Ghraib dan pembantaian 24 orang warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan di Haditha, dicoba ditutup-tutupi. Bahkan, pembunuhan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Ishaqi dibenarkan oleh para petinggi militer Amerika.Karena itu, harus menjadi catatan kita bahwa Menhan Rumsfeld sangat bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat dan ribuan rakyat Iraq. Jadi, kita jangan langsung gembira atas kunjungan Rumsfeld. Saya yakin, dia membawa agenda tersembunyi. Sebab, dalam informasi yang sementara ini disampaikan, tidak akan ada konferensi pers, tidak ada kontak dengan kalangan LSM, dan sebagainya. Rumsfeld harus kita sadarkan bahwa kebijakan Neo-Con yang diusungnya itu telah menyebabkan penderitaan bagi banyak orang di luar Amerika. Kita bersikap wajar saja, tidak perlu terlalu berharap banyak terhadap kunjungannya itu. Toh, sampai sekarang, meski tahun lalu sudah diomongkan Presiden Bush, Amerika tetap mengisolasi dan mengembargo militer Indonesia.

Djoko Susilo, anggota Komisi Pertahanan DPR RI

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x